"blessed for all who get wisdom from my stories"

Sabtu, 12 Juli 2008

Dari Kalinaun ke Tomohon


2 Hari bersama Nia dan Ellen mewakili ANBTI ke Manado. Kepergian kami dalam rangka konsolidasi ANBTI untuk pertemuan regional di Palu dan Kupang. Kali ini bersama Kanjeng Ratu Hemas yang kebetulan menyertai Sultan menghadiri pertemuan Masyarakat Katolik se Indonesia Timur, yang sayangnya pemberitaannnya miring seolah-olah Sultan mendukung salah satu Partai karena kelompok Laksamana Sukardi dan Sukowaluyo juga hadir.
Kembali kami mengunjungi masyarakat Kalinaun yang masih berjuang untuk pembukaan Tambang emas di Likupang yang berbahaya itu karena pembuangan tailing beracun justru didarat yakni akan dibuat danau penampung. Mengacu kepada kasus Buyat maka masyarakat lebih smart yakni berjuang melalui struktur yakni pemilihan kepala desa. Tampaknya calon kepala desa pilihan rakyat akan memenangkan pertarungan ini mengingat PT MSM sudah kewalahan mengeluarkan uang yang banyak namun belum berhasil. Yang lebih menakjubkan lagi calon kepala desa yang diusulkan ada perempua....kami berharap bahwa jumlah voters terbanyak perempuan itu akan mendukungnya.
Kali ini ikut bersama rombongan adalah Kanjeng Ratu Hemas yang dalam kapasitas sebagai anggota DPD mencatat dengan cermat semua dialog dan keluhan masyarakat.
Dari Kalinaun kami ke Tomohon bertemu dengan Masyarakat Minahasa yang terdiri dari 9 suku utama. Pertemuan ini tanpa diduga dihadiri juga oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, sehingga lengkaplah kebahagiaan masyarakat Minahasa itu. Maka konsolidasi pertemuan regional ini sangat berharga bagi kami di mana juga bertemu dengan Romo Maxi dari Timor, sekaligus membicarakan untuk lobby di Kupang..... oke...kehadiran yang 2 hari di Manado ini sangat berharga bagi konsolidasi kami........semoga Tuhan berkenan atas upaya kami merajut kembali persatuan Indonesia........

Tidak ada komentar:

JENDERAL…..Aku sudah punya Handphone !

tapi itu pun sudah dirampasi majikan arabi itu
sekaligus melucuti martabat BANGSA
yang kau titip pada tangan tangan kurus ini…
pada bibir teriris meluka menyayat……
pada tungkai mengecil melapar melunglai
helai sehelai harga nyawa ku adalah budak belian…….
terkapar dalam kegelapan tanpa pengawalan
dan kau sibuk mengamankan dirimu
nyaman dikawal seribu pengikutmu
apalah aku ini…….perempuan Dompu
yang melanglang ke negeri suci mengampu hidup ..
menjuangi nafas keluargaku-rakyatmu merana
dalam negeri yang mulai melapuk…mengeropos
dan….sampai hati kau jenderal…..
kau biarkan para pencoleng itu berkeliaran bebas
menyuapi ….menyumpali ..menguras…
dan menyempitkan ruang ruang paruku……
lalu nafasku makin menyesak karena asap asap korupsi
kau biarkan berseliweran di cakrawala negeri….
lalu kau bilang itu pelangi

Aku sudah punya Handphone Jenderal
tak perlu kau tambah lagi
karena tak akan mungkin menambah jengkal harapku padamu aku hanya ingin pulang
ke pangkuan negeri….
di situ telah kurangkai jiwa bangsaku
bersama derita tak berujung ini………

(tribut buat Sumiati)

PULANG

Ku titip tetesan embun pada bedebu tandus pada kekeringan pepohonan perdu yang punah diterpa angkara awan awan panasKini aku kembali pada tanganmu membuka

pada jemari jemarimu yg siap membelai.....dan dalam pelukan harap itu....aku pulang ....bersimpuh di pelataran hatimu...siap merajut bangkit....dan aku kembali hidup

(Buat pengungsi Merapi yg berhasil pulang)

BERSELIMUT LAHAR (Erupsi Merapi)

Malam ini......
Dedaun merunduk rontok bersepuh debu...memutih...putih
lahar lahar kelabu bergulung menggulung menuruni tebing tebing jiwa…
kusimpuhi lutut membiru ….. patuh
ku pasrahkan sisa nafasku pada keagungan belaianmu yang membara merebus …meleburku menjadi tak berujud .... aura nan abadi

Agar aku tidak pedih menguras kalbu
Agar aku tidak lelah meretas benak
Agar aku tidak renta memulasari kerut

yang terurai pada baki baki sesajen basimu
Bersama lolong terakhir alam berkumandang pulang
kurebahkan nuraniku…berselimut lahar….. Malam….ini

BERSELIMUT GELOMBANG


dera hempasnya memekak sunyi nyalak serunai malam....petanda badai......
bencana....bencana..suara itu tak bernyali
dan aku pun menari bersama nyanyi samudera
bergulir bersama pasir pasir pagi
kuselundupkan jiwaku ...berlindung dalam gulung membuih
tak peduli gemuruh pasangnya merencah karang
tekad yang rapuh.....memutih ...menyuci..
berselimut gelombang.....


Seminyak, Bali
by: Emmy Sahertian, Saturday, October 2, 2010
THE ACT OF FREE CHOICE

Di bilik sepi ini aku memilin diri untuk bebas menentukan jalan….tanpa sang Sakamu,
dan aku mengajak aku…aku .... aku.... aku dan aku
untuk tidak lagi mengampu padamu Jenderal
kuderapkan kakiku sendiri di belantara zaman tanpa menggelantung pada jari jari lenturmu yang biasa menarik pelatuk pelucut nyawa yang membuka kerangkeng para durjana pencoleng cita remaja negeri
lalu ku pinjam aturan ilahi ini : ACT OF FREE CHOICE

Merdeka!!!!

(17 Agustus 2010)

MAMPIR :Suatu malam di pinggir kali Jodo

Suatu malam di pinggir kali Jodo

dedaun mengembun....... rimbun
atap berkatup hasrat hasrat mengapit menggulung
kuak jendela melebar....melebur seribu lambai lentik tangan
gegas nafas memburu langit berbentang bintang... lelaki malam pun merentang
di antara helai rambut dan selangkang mengurai peluh peluh dingin.....
lalu…jeritan hampir subuh membuang sisa birahi malang.....

dan kau tak menampik… mampir
meskipun sahadatmu bergelantung sarat di pusaran hati
lalu ayat ayat suci pun mandul……
terperangkap derita rahim kelu …..

Bukalah Kasutmu JENDERAL……………..

dan rasakanlah betapa jalan kami memanas berduri merajam telapak telapak sunyi mebungkam derita

helai jiwa kami tergadai bersama ucapan manis bibir beracunmu…..

malam malammu kan terusik suara jeritan bumi merana yang kian menggemuruhkan semangat untuk membangkang…..

yang menganga pada lutut lutut bersimpuh menarik keperkasaan Tuhan dan menjahitkannya pada geligi geligi retak

karena kemarahan mendengki

singsingkanlah kaki celanamu agar kau dapat merasakan bahwa tidak semua jalan itu rata…berduri dan berkarang

betismu akan merasakan lumpur pekat yang telah lama merendam pendam sukma manusia jelata

yang rela mendermakan jengkal nafasnya tersangkut pada kawat berduri penjaga wilayah nyamanmu

punggung kami meregang bersandar pada angan kosong jalinan janji yang kian panjang tak berujung

hati hati….kakimu mulai membusuk…..aromanya mulai merasuk menebar ….maka bau bangsamu menjadi anyir….

membusukan bumi………..kami merontok


bukalah kasutmu JENDERAL

sebelum engkau terjungkal…..karena jalanmu berlubang curam

sekian lama terutup sepatumu yang menebal nyaman…..

Jenderal ! jangan kau tekan Anak Pulau itu

jangan kau tekan anak pulau itu, Jenderal !
lalu kau suruh mereka meracuni tali pusar dan placenta yang telah berabad tertanam pada tanah tanah ulayat itu
jangan kau usik butiran emas Tuhan….dan menggerus rahim ibu buminya dengan racun racun ecocida…maka nyiur nyiur akan mengering lesu……..lalu gemuruh angin menjadi marah mengamuk berkepanjangan karena tak ada lagi penyambutan lambaiannya yang mesra membelai

jangan kau tekan anak pulau itu, Jenderal !
lalu kau bilang bahwa tambang akan lebih mensejahterakan ketiban hijaunya rerumputan….jernihnya sungai, birunya laut suburnya kebun buahan…berkeriapannya ikan ikan …cerianya warna terumbu … bercengkeramanya kerbau dan tekukur….
itu adalah mimpi yang tak pernah terbukti…….karena akan muncul manusia manusia beracun lumpuh layu…..tubuh membenjol….lalu nyawanya menelusur beberapa jengkal menuju ziarah terakhir tidur abadi
sementara engkau begitu sehat meniduri serpihan serpihan penderitaan itu dengan lelap bersenandung

Jenderal! jangan kau tekan anak pulau itu... dengan kekuatan bentakmu beribu jari pelatuk bedil keserakahan…dan janji muluk tentang berkodi lembaran kertas berhiaskan wajah pahlawan yang kau pajang sebagai penghibur kegentaranmu atas hutang negeri yang tak terbayarkan…
karena hatinya akan menghitam dan samuderannya akan memburam menerkam jiwa jiwa penjilat sekelilingmu….
semakin di tekan……. Ia bagai detonator peledak amarah gunung…yang kan bergulung menenggelamkan keperkasaanmu selamanya…..

maka buminya akan menerkam semua mimpi subuhmu lalu mengembalikan kiblat imanmu untuk menerima penghakiman terkhir…..


(puisi ini secara terbuka menyatakan tidak setuju.....pembukaan tambang di daerah pertanian rakyat dan pesisir pantai di bumi Minahasa......)

Benderaku memucat, Jenderal !!!!......

(memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia,17 Agustus 1945 / 2009)


ketika …..darah merahku terkuras di tanah tanah pertiwi merenta

dan tulang putihku berlumut jelaga memburam …mengelam

karena serbuk emas,perak dan butiran manikam menguap bersama kabut hitam menutup ruang paru ku

lalu pucuk pucuk meranti, pun kulit merbau, gugur terkelupas meluruh menguapkan tirta buana…menandus

maka samuderaku mengamuk membadai …menolak mengawal pantai mengkeruh

dan karang menghitam..beracun… penanda zaman kiamat


benderaku memucat, Jenderal !!

ketika…perawan perawan lugu berdada hampa mengiring kesuma kesuma negeri

yang gugur tak bernyali dalam terkaman cuaca

lalu para pendulum keadilan berdandan mulut serapah palsu berikrar ….membual

membuai anak anak pulau berperut busung…. geligi mengkertak… lapar dan marasmus

membekukan kepala anak anak langit kosong menggosong

pada meja meja sekolah keropos diantara pekarangan sempit melunglai derap kaki


aku di sini, Jenderal !!!!

dengan sisa darah mengental dan tulang tulang melapuk berkeriapan…

menunggu komandomu memerahputihkan kembali bendera negeri yang pucat …kumal

jangan kau gadai jiwa negeriku….karena darahku kan meluap…hingga tubuh ini mengering…..

IKRAR LEILA....


ku hapus air mataku

yang lamas membahasahi burkamu umi…

lembutnya kafan sucimu

meneduhkan gemuruh luka jiwaku

ketika kau pasrahkan nyawamu padaku

dalam pelukan malam berposphor


ku titip Husein …adiku tercinta di sampingmu…

mengiringi tidur sorgawimu……


pergilah umi……

bawalah Huseinku…..

sorga begitu layak bagimu……


kan kubersihkan serpihan serpihan ketakutan

kan ku tanam puing puing kegetiran

kan ku balut bilur bilur sembilu

pada tubuh tubuh bangsaku….


ku asmakan janjiku

di sini……..di tapal batas keangkaraan

kan ku bangun bangsa ini…..

merdeeeeekaaaaa!!



(mengenang pejuangan perempuan2 Palestina---- oleh Marieta)

ballada kelamin kelamin

hari itu tanggal satu bulan satu tahun satu ada ritual ilahi
Tuhan menenun kelamin kelamin
untuk mengalir cairan hidup.. merah ..putih…
dan dari liang yang lentur itu
keluarlah kepalamu … kepalaku…
berisi semua huruf huruf .. angka-angka .. garis garis,noktah noktah
warna warna .. dan mimpi mimpi
tiap hari melekat dekat merekat….nikmat dalam cinta

berjuta bahkan triliunan tahun kemudian
hari ini tanggal 13 Mei tahun 1998 ada ritual birahi
kelamin kelamin berseliweran tanpa arah
liar….menusuk merobek mengumpat
dan liang liang memerah itu meradang … luka dalam dendam…..
beling…linggis dan lidi…. mengatup…menyumpal memandul
sssssssssuuuuu aaaaaaakkkkkiiiiiittttt aaaauuuuuuuuwwwwwwwwww

lelaki lelaki berkelamin kekar itu…..membuka celana tanpa malu
karena Tuhan tidak lagi menenun …
lalu mereka menjadi tuhan……


(Mei 1998...tribute buat "May Lan" dan teman2 in somwhere)
Mengenang perkosaan Mei: MARIETA

KAWAT BERDURI


gerai idemu telah memasung angan remajaku
yang kugantung seluruhnya pada sekat tajam berkawat
kau menoreh huruf huruf indoktrinasi beracun dalam bentangan otakku
lalu kau gelar di halaman istanamu…..
kini kau merasa aman
membelai dada yang tidak pernah berdegup
karena sanubarimu membaal

pilar pilar berduri kau deretkan dipekarangan rumahrakyatku menyekap jiwa sembiluku yang menjelata
lalu mimpi mimpi merdekaku yang kuselip di lambaian janur berpenjor
rontok bersama buah nyiur yang belum meranum…..

aku lapar…aku dahaga…..
aku terpenjara…di balik paku berkilaumu
yang mendurikan mulutku membungkam…
hai begawan degil
disini di pelataran ini
aku menjad bodoh……

(by marieta…….saat demonstrasi mahasiswa 12 Mei 1998)

EPIKLESE PEMILU 2009 : KATA LAWAN KATA

Dalam khotbah kerakyatan mereka bertempur

kata lawan kata


Dengan wajah wajah beku mereka membusung dada

kata lawan kata


Dengan tangan mengepal mereka mengangkat kepala

kata lawan kata


Mereka berkata dengan wajah beku

Mereka berkata dengan membusung dada

Mereka berkata dengan mengacung kepalan

Lalu mereka berjanji

kata lawan kata


dalam lembaran lembaran kertas tercabik

dalam gelungan spanduk mengkumal

Maka tercabiklah dan mengkumalah mereka

dalam janji …..kata lawan kata…….



Marieta

1 Januari 2009

SYAFAAT UNTUK BANGSA MERDEKA

Saatnya lutut melipat

di atas bentangan selimut derita kemanusiaan ini…ya Sang MAHA

sementara telapak telapak itu ‘kan berlanjut menelapak teriknya semburat mentari

melayari genangan kampung kampung sepi berlumpur

dan…gesekan geligi mengilu menembusi gendang pendengaran menuli

karena keimanan pupus dalam dahaga bangsaku

……..bangsa merdeka …..


wajah wajah getir kelu tak berirama

teruruk dalam deru geraman purnama purnama kelabu

memucatkan aura kesahabatan kami

mengubah rona pasi benderaku dan tengilkan persaudaraan kudus negeri

lalu mereka bertuah pada penjagal penjagal nurani

karena pergulatan keserakahan bangsaku

…….bangsa merdeka….


kepala kepala kecil ini kembali menengadah

pada bentangan lazuardi keadilanMu ya Sang MAHA

tangan tangan mungil ini menatang dalam hening syafaat sunyi…….

hanya kecil…. mungil melemah…

katakanlah…katakanlah…. dengan keperkasaan KASIHMu

jalan jalan bangsaku di tanah merdeka ini .......


Marieta

31 Des 2008

UU DAN PERDA BERBASIS AGAMA DI INDONESIA

UU DAN PERDA BERBASIS AGAMA DI INDONESIA

Semangat penegakan “moral” yang mengancam Kebhinekaan Bangsa

Pdt.Emmy Sahertian,MTh

Steering Committee ANBTI


(Tulisan Utk.Majalah Berita Oikumene PGI)

Dalam data jaringan Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), tercatat sekitar 132 PERDA bernuansa agama aktif yang sudah berjalan, dan akan menyusul ratusan raperda sejenis yang sedang menanti disahkan.Sebagian besar perda tersebut berorientasi pada salah satu agama yang disebut “agama yang resmi diakui” di Indonesia sehingga dampak konflik laten maupun terbuka cukup memprihatinkan ketika sebagian besar masyarakat yang selalu dianggap “tidak resmi” merasa diperlakukan tidak adil dan diabaikan dalam akomodasi keadilan Negara. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah banyak dari produk hukum ini bertentangan dengan Pancasila,UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menguatnya kontroversi “agama resmi” atau arus utama dan agama adat

Beberapa pertemuan regional ANBTI yang sudah di lakukan di 3 simpul wilayah yakni Kalimantan, Sunda Kecil (NTT,NTB,Bali)dan Papua, serta bulan Februari lalu di simpul Sulawesi dan Maluku mulai mendengungkan adanya suatu ancaman yang lebih kuat akan disintegrasi sosial yang bukan tidak mungkin akan berdampak pada disintegrasi bangsa. Mulai terasa juga bahwa di daerah-daerah yang sudah menerapkan perda bernuansa moral dan agama mengalami mobilisasi demografi berbasis sektarian dan primordialisme, dimana perpindahan penduduk ke daerah pemukiman tempat di mana mereka terakomodir secara sosio-kultural dan agama kini menjadi pertimbangan aman. Mobilisasi demografi tersebut terjadi karena pertimbangan keterancaman. Tercatat beberapa isu yang muncul seperti ancaman terhadap suku-suku asli yang masih memiliki adat dan kepercayaan seperti Kalimantan: beberapa kompleks kepercayaan suku Dayak a.l.Kaharingan, Manyan,dll; di,Papua: Koreri, HAI,dll;Sulawesi dan Talaud:ADAT Musi, suku Banti, dan 5 suku lain di Minahasa, Komunitas Bishu, Suku Kajang,masyarakat adat Polewali Mandar; NTT: Agama Halaik Boti, Marapu dan masih ada banyak lagi sekitar lebih dari 200 dalam catatan AMAN Indonesia. Banyak juga dari mereka yang tidak memiliki status sipil karena agama mereka tidak diakui dalam status kependudukan Indonesia atau demi anaknya diterima di sekolah maka mereka terpaksa memilih salah satu agama yang diakui. Pergumulan tersebut telah lama berjalan dan telah mendorong munculnya gerakan advokasi hak-hak dasar mereka. Gerakan masyarakat adat ini semakin menguat ketika pengakuan Internasional terhadap keberadaan mereka adalah pengakuan berbasis HAM yang menjadi klausul dalam ratifikasi negara-negara peserta untuk isu hak-hak SIipil dan Politik (SIPOL) serta hak hak Ekonomi,Sosial dan Budaya (EKOSOB). Indonesia adalah salah satu negara peserta yang baru saja selesai meratifikasi Kovenan internasional tentang EKOSOB. Dengan lahirnya berbagai perda-perda bernuansa agama yang cenderung tidak kompatibel dengan upaya penegakan HAM di Indonesia berdampak pada menguatnya kontroversi isu dan kebijakan yang bernuansa agama arus utama serta masyarakat adat dan kepercayaan di berbagai daerah. Kesenjangan yang besar terjadi antara keterlibatan negara dalam penegakan HAM dengan implementasi kebijakan negara yang tidak berpihak pada kalangan minoritas. Padahal indikator penegakan HAM bagi negara peserta ratifikasi adalah perlindungan terhadap hak kaum ninoritas atau kaum yang dilemahkan.

Dikotomi “Mayoritas” dan “Minoritas”

Kondisi di atas diperteguh dengan berbagai produk Undang-undang negara yang memberi kekuatan pada penerapan perda-perda tersebut. Sebut saja UU 23/2006 tentang ADMINDUK dan UU no.44/ 2008 tentang Pornografi, disamping beberapa UU sebelumnya yang dinilai oleh para pemantau HAM dan Pluralisme, sebagai ancaman kebhinekaan Indonesia yang adalah jati diri bangsa (diskusi publik Pentingnya Pluralisme Demi Menjaga Keutuhan NKRI di gedung Nusantara I, Jakarta, Selasa, 17 Maret lalu).

Produk UU tersebut selalu mengacu kepada kekuatan mayoritas yang secara kuantitatif dianggap sebagai acuan diloloskannya suatu perundang-undangan (voting). Menguatnya visi keagamaan dan pengabaian visi kebhinekaan Indonesia dalam diri para anggota legislatif menegangkan proses demokratis penyusunan perundang-undangan yang mestinya mendidik masyarakat untuk saling menerima dan menghargai perbedaan tanpa harus saling melukai. Maka dikotomi mayoritas dan minoritas menjadi hitungan mendasar dalam menyusun kebijakan negara di level legislasi. Padahal bila dipetakan secara proporsional maka yang disebut sebagai golongan minoritas di dalam bangsa ini mempunyai sumbangan yang luar biasa dalam pembangunan bangsa dan mereka adalah manusia- manusia berharga yang pernah dimiliki bangsa ini. Ungkapan mayoritas minoritas kuantitatif ini telah menjadi hegemonik pergaulan keagamaan di Indonesia yang pada gilirannya telah dimanipulir menjadi konflik terbuka di beberapa daerah seperti Maluku, Poso, dan konflik konflik pemekaran serta PILKADA di beberapa daerah. Hegemoni keagamaan ini kemudian menonjolkan aspek “moral” dari sudut pandang masyarakat mayoritas yang akhirnya mendorong upaya penyeragaman kultur dan formalisme etika berbangsa dan bernegara.

Lebih menyedihkan lagi ketika dikotomi ini ternyata berakar pada apa yang disebut “pluralisme-phobic” yang terdapat pada agama-agama fundamentalis arus utama dimana secara mekanis menghubungkan pluralisme dengan sinkretisme sehingga kebhinekaan menjadi sesuatu yang menodai kesucian beragama.

Semangat penegakan “Moral” yang mengancam Kebhinekaan Indonesia

Bila kita pelajari kata demi kata dari klausul-klausul Undang Undang dan PERDA bernuansa agama itu maka adagium utamanya adalah “moral”, agar bangsa ini ditegakan moralnya. Tapi bila kita menyimak bagaimana implemntasi perda-perda ini sangat diskriminatif dan ambigu. Misalnya tentang maksiat dan pornografi, ungkapannya adalah melindungi perempuan dan anak tetapi obyek hukumnya justru mereka yang menjadi korban dari sebuah system masyarakat patriarkhat serta kebijakan negara yang memberangus keterampilan hidup karena jenjang kemapanan domestikasi status dalam kultur, agama dan kebijakan negara. Korban korban itu selalu perempuan dan anak.Tentang Pancasila dan kebhinekaan menyangkut persoalan budaya, maka budaya yang “ekologik” yang memilih tidak menutup tubuh berabad abad lamanya, disubordinasikan sebagai budaya yang perlu “diadabkan” dengan menutup tubuh padahal kejahatan kriminal yang bernuansa moral paling banyak dilakukan oleh orang yang berpakaian lengkap.

Pertanyaan kritis yang perlu menjadi dasar perenungan kita adalah apakah produk politik ini akan menjamin penegakan moral? Apakah persoalah moral yang adalah persoalan keagamaan bisa terbantu dengan produk politik yang cenderung ekslusif serta menyempitkan kemanusiaan dan kebangsaan Indonesia? Kenyataan membuktikan bahwa produk produk politik ini telah mengancam kebhinekaan Indonesia yang pada gilirannya akan mendorong konflik dan disintegrasi sosial.

ARTIKEL LEPAS

MEEERDEEKAAA !???!!

Photo of Pastor Gustavo Gutierres (google search), a Brazillian Liberation Theologian

Merdeka adalah sebuah kata pendek....istilah yang dimelayukan dari kata Sansekerta Mahardikha yang artinya bebas dari penindasan. Hari ini tanggal 17 Agustus, HUT kemerdekaan bangsaku Indonesia, dan karena kebetulan hari Minggu maka pasti khotbah-khotbah menyitir tentang kemerdekaan Indonesia. Aku senang atas tulisan Rikhard Bangun tentang neo-sosialisme yang lebih pragmatis di Amerika Latin di Kompas tanngal 16 Agustus, terutama ketika mereka mengikuti Pastor Fernando Lugo yang SVD yang notabene adalah presiden Paraguay mulai berfungsi sebagai presiden. Peranan teologi pembebasan yang menjadi hasil pergumulan para pastor seperti Paul Freire, Gustavo Gutierrez, Oscar Romero termasuk Fernando Lugo yang telah lama menjadi konsumsi penelaahan teologis di STT Jakarta dulu kini mulai kembali terngiang di otakku. Teologi ini dimulai dari pengembaraan pergumuln bersama kaum miskin yang diperdaya kekuasaan untuk melegitimasi kesucian kaum elit dan kaya dalam masa-masa perang dunia II, era perang dingin dan neoliberalisme, lalu kaum buruh,tani dan pekerja harian kasar (baik domestik maupun migrant) yang dimanfaatkan sebagai mesin kapitalis. Pengembaraan itu lalu melahirkan hipotesis yang masuk ke wacana-wacana pelayanan community development dan politik.....kini memasuki sisi pragmatis: action for the needy and or the poor.

Memanfaatkan fenomena baru Amerika Latin sebagai kacamata untuk menyorot kemerdekaan Indonesia... sangat jelas bahaya yang terjadi di negara kita tinggal selangkah lagi ketika kekuatan kaum demokratik terpecah, kenbanyakan kekanak-kanakan, malah ada yang korup....maka kekuatan luar yang berpusat pada para pemodal dan investor serta penguasa pasar global akan menjerat kita habis-habisan. Dan ini merupakan sebuah penjajahan baru bagi Indonesia setelah mengalami penjajahan secara politis kini bergeser menjadi penjajahan ekonomi yang dampaknya luarbiasa bagi kondisi sosio-spiritual. Rasanya hampir semua orang telah kehilangan spirit kemerdekaan karena penjajahan itu sudah merasuk hingga cara berpikir, dan cara berperilaku. Ruang-ruang berpikir kita telah dibajak habis oleh cara berpikir kapitalis ketika orang mulai berhitung untung rugi dalam relasi kemanusiaan, orang mulai melihat lebih banyak terhadap diri sendiri bagaimana memanjakan dan menikmati diri sendiri sementara sesamanya yang mungkin tetangganya atau mungkin kampung sebelahnya sengsara minta ampun;orang yang memanfaatkan proyek kemanusiaan untuk keuntungan diri sendiri lalu komitmen dan belas kasihannya menjadi singkat,sesingkat proyek-proyek itu sendiri; orang yang melihat Tuhan adalah untuk dirinya sendiri lalu doa-doanya menjadi sangat asketik dan konsumtif....hanya minta berkat untuk diri sendiri.......dan yang lebih aneh lagi adalah cara kita memandang sejarah penjajahan Indonesia yang sangat ditentukan oleh rentang waktu...bukan bengisnya penjajahan itu sendiri. Sepertinya orang lebih teringat penjajahan Belanda yang sangat lama ketiban menyebutkan bahwa Indonesia merdeka dari Penjajahan Jepang. Mungkin teman-teman akan tidak setuju bila aku mengatakan bahwa dalam zaman penderitaan bangsa yang terpuruk ini mereka yang seperti itu bagiku tidak punya perasaan kemanusiaan atau baal kemanusiaan dan kehilangan nalar historis, bahkan telah menghianati kemerdekaan itu sendiri....dan mereka kembali terpenjara dan dijajah dalam diri sendiri.


Kali ini kemerdekaan Indonesia yang ke 63 tahun aku merenung seperti ini:
Aku berdoa kepada Tuhan agar hidupku dipelihara dalam bangsa ini dan bebas dari mara bahaya, namun yang diberikanNya adalah sejarah hitam statusku sebagai bangsa Indonesia yang dijajah Belanda, Inggris,Jepang...dan penjajah-penjajah lainnya. Aku berdoa kepada Tuhan agar kemerdekaanku menjadi abadi dan suci, ternyata Ia memberikan Soekarno yang poligamis, Soeharto yang represif, Habibi yang "nation converted",Gus Dur yang gampang terhianati, Megawati yang aportunis,SBY yang peragu.......dan ndak tahu siapa lagi. Lalu aku kini berhenti berdoa......dan mempersilahkan TUHAN YG BERTINDAK.......meskipun itu suatu kehancuran.....kita harus terima dengan lapang dada. Sama seperti riwayat para budak Ibrani setelah lepas dari Perbudakan di Mesir lalu exodus dan mendirikan sebuah negara. Tingginya ketidak adilan sosial yang mendera negara yang gamang statusnya apakah mau bersifat theokratik atau demokratik itu, akhirnya menyebabkan mereka kembali dibuang dan dijajah yang diyakini sebagai penderitaan "padang gurun" jilid II dan diyakini sebagai tindakan pemurnian TUHAN YG BERTINDAK LANGSUNG.

Sambil keluar rumah aku melihat jalan depan rumah sepi....dan hiasan bekas gelas plastik yang dicat warna merah dan putih,umbul-umbul serta bendera terlihat meriah......lalu mbak Ning dan mas Edy, sebuah keluarga yang adalah tetangga paling dekat tetap buka warung.....agar tetap hidup terlihat biasa biasa saja, kalam dan ndak heboh. Inilah kemerdekaan yang pragmatis yakni berusaha "TETAP HIDUP" dan tidak mau dijajah oleh euforia formalitas perayaan yang sering menghamburkan dana sia-sia demi sebuah prestise bangsa. Mungkin suatu kali bangsa Indonesia harus "time out" atau jeda perayaan perayaan itu, dan uang seremonial itu dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak tingkat pendapatan rakyat miskin dan terpencil. Kita baru buat perayaan apabila rakyat-rakyat itu mulai meningkat kehidupannya.....ini pragmatis saja. Tapi pasti banyak yg bilang gue ini naif dan idealis, karena tiap tahun rakyat butuh sublimasi penderitaan...dan sublimasi ala Indonesia itu adalah "perayaan-perayaan" formalitas itu....meerdeekaaa.


Sebuah Catatan Singkat tentang NATAL dan ADMINDUK



NATAL adalah kata yang sangat erat kaitannya dengan persoalan "reproduksi" baik perempuan dan laki-laki. Kali ini terjadi pada seorang ibu muda hamil besar namun karena tuntutan politik negara untuk mengadakan pendataan kembali penduduk maka mereka harus kembali ke tanah kelahiran mereka di Nazareth, Propinsi Iudea. Semua tempat di kota sudah penuh... mereka harus berjalan dan singgah di Bethlehem, sebuah desa kecil. Di situ pun semua penginapan penuh....yang tertinggal adalah sebuah kandang. Dengan sangat terpaksa Perempuan hamil itu dan suaminya menginap. Keberadaan mereka di kandang domba ini disinyalir karena mereka adalah orang sederhana yang memiliki uang pas-pasan untuk menyewa sebuah penginapan.
Kepekaan untuk melihat pentingnya keselamatan ibu dan anak dalam peristiwa reproduksi tampaknya sangat luntur sejak zaman dulu. Negara sebagai yang mempunyai "power" untuk memberi akses perlindungan dan kenyamanan bagi para pengungsi, ternyata hanya mementingkan apa yang disebut kewajiban negara untuk mendata adminduk tanpa melihat bahwa pendataan itu merupakan panggilan untuk memberi kenyamanan,keamanan, status dan akses kesejahteraan.
Peristiwa kelahiran di kandang domba merupakan cerminan kekuasaan negara yang tidak memberi perlindungan bagi warganya terutama "Ibu dan Anak". Maklumlah ini hanyalah sebuah wilayah jajahan.
Aku mencoba memahami Natal yang dialami dalam negaraku Indonesia ini maka aku teringat akan UU ADMINDUK (lupa nomernya) di Indonesia. Mestinya UU ini adalah sebuah panggilan moral negara untuk memberi status dan perlindungan sipil bagi rakyatnya termasuk para ibu dan anak2......ternyata masih banyak yang merasa terancam karena dalam KTP masih ada dikotomi kolom agama resmi dan tidak resmi........mereka yang distigma sebagai agama suku,adat atau agama lokal sedang bergumul dengan status sipilnya karena terjadi diskriminasi kolom agama. Masih banyak rakyat Indonesia terutama perempuan dan anak belum mempunyai status perkawinan yang jelas karena termasuk dalam agama suku dan adat lokal yang tidak diakomodir negara, berdampak pada status anak2nya yang harus masuk sekolah. Sebagian memilih masuk ke agama-agama besar agar bisa diterima dalam masyarakat maupun akses pekerjaan.Sebuah keterpaksaan yang membungkamkan keberagamaan mereka secara tulus, jujur dan bermakna bagi kehidupan. Agama menjadi sebuah simbol formalistik yang melanggengkan kemunafikan.
Seperti Maria dan bayi Yesus.....yang tidak mendapat perlindungan yang layak dari negara maupun masyarakat yang sadar akan apa artinya kemanusiaan....maka masih banyak rakyat Indonesia yang merasa terancam hak-hak sipil dan kependudukannya........mereka bagaikan pengungsi dan penumpang sementara di negaranya sendiri. Tuhan...Apa yang dapat kami lakukan, tolong beri kami kekuatan untuk melangkah...
SELAMAT NATAL 25 Desember 2008

Dialog Budaya ADAT Musi Talaud,Upacara Pengakuan Dosa, Syukuran Panen pertama


Hari Kedua à Jumat, 29 – 08 – 08

Dialog Budaya Spiritual
09.00 – 09.30 Acara Pembukaan
- Ucapan Selamat datang
- Doa : Pemimpin Organisasi Adat Musi
- Laporan Panitia oleh : Ketua Panitia Bpl A.N Sapoh
09.30 – 11.00 - Diskusi Sesi Pertama : - Kepala Dinas kebudayaan dan
Pariwisata Kab. Kepulauan Talaud.
Oleh : Bapak R. Adam
- Kapolres Kab. Kepulauan Talaud
Oleh : Wakapolres Grubert T.Ughude
11.00 – 12.30 Tanya – Jawab Sesi Pertama

12.30 – 12.45 - Diskusi Sesi Kedua : - Nasum ANBTI Jakarta Oleh :
1. Pdt E. Sahertian
12.45 – 13.45 - Makan Siang
13.45 – 14.00 - Kelanjutan Diskusi Nasum ANBTI Jakarta : 2. Ellen Pitoi
14.00 – 15.30 - Tanya Jawab
15.00 – 16.00 Penutup
1. Ucapan Terima Kasih
2. Doa Penutup
3. Selesai
Ritual Umanna Amme Wakku (Ucapan Syukur Panen Padi)
18.00 – 19.00 - Makan Malam dengan Syarat :
1. Semua Peserta acara berpakaian putih dan tidak boleh warna
Merah
2. Semua Peserta acara duduk membelakangi laut atau menyanping

4. Kelengkapan Ritual :
1. Padi hasil panen
2. Lauk pauk hasil usaha sendiri.
3. Air pancuran untuk di minum

Ritual Manattull Sala (Ritual Pertobatan / Pengampunan Salah dan Dosa)
· Semua Masy. Adat Musi Berkumpul di tempat Ibadah termasuk anak-anak juga.
· Acara dipimpin seorang perempuan dengan pengecekan satu per satu keluarga yang hadir dan apakah semua keluar dalam keadaan sehat-sehat. (Mamanggo Amonanna)
· - Doa Pembukaan (Alioman Su Mawu)
- Petuah dan Nasehat sehubungan dengan Pertobatan (Wawa’e / Tatuladda)
· Bersama-sama mengaku salah dan dosa dihadapan Tuhan (Tatattullu Sala)
· Doa Khusus kesembuhan (Paramisi).

Jumat, 03 Oktober 2008

Rumah Doa


Pkl 15.00 - 16.30
Doa Bersama di Bukit Duanne tempat Pewahyuan kepada Tokoh Spiritual Penghayat Kepercayaan ADAT Musi, Talaud: Bawangin Panahal
· Proses Ritual
1. Pembersihan diri (Berlimau) sebelum naik ke Bukit Duanne Masyarakat yang akan ikut ritual harus Minum air yang diambil dari mata air Pencurang yang udah di campur dengan air jeruk nipis.
2. Pembukaan gerbang dan ada 2 orang penjaga langsung mempersilakan orang untuk masuk.
3. Gerbang puncak (2 orang) mempersilakan masuk pelataran untuk berdoa.

· Masuk Untuk doa Bersama à Wakil-wakil golongan agama dan penghayat kepercayaan dipersilakan masuk, di ruangan doa khusus, dan ruangan ini terpisah dengan masyarakat lain. (dibukit Duanne ada 2 bangunan tempat berdoa, 1 khusus untuk pemimpin, golongan agama, dan 1 utk warga)
1. Manattullu Sala (Pemimpin Penghayat diikuti warga Penghayat).
2. Doa bersama sesuai dengan nomor urut masing (doa bersama ini dipimpin oleh golongan agama masing-masing)

· Penutup
1. Ucapan Terima Kasih
2. Selesai

Pkl 19.00 – 21.00
Diskusi khusus dengan masyarakat penghayat Kepercyaan Musi sekitar 26 orang laki-laki dan 4 orang perempuan, memang kelihatan budaya di masyarakat Musi peran kaum perempuan lebih berperan pada urusan domestik.

Upacara Meminum Air Suci dan Mendaki ke Bukit Duane, Musi, Talaud



Perempuan Berdaster

sambil memandang kemben dan gelungan sanggul
yang berhamburan terlepas dilantai berpapan
mulutnya bersiul.....melantunkan kebebasan
"kini aku telanjang..bersih ...dan aku bebas memakai dasterku lagi
daster kemerdekaanku"
(dari puisi "siul kemerdekaan" by : Marieta)

Dalam menyambut Hari Kartini 21 April 2009 ini, tempat kami masih disinggahi para perempuan berdaster yang menerobos keluar dari jeruji kekerasan dalam rumah tangga...mengerikan bila dibahas. Namun sekedar mengingatkan bahwa perjuangan perempuan tidak lagi melawan kultur patriakhi saja yang selalu memenjarakan dirinya dan telah menutup kemanusiaannya hingga ia tidak bisa memiliki apapun kecuali hatinya yang miris. tapi perjuangan yang paling berat adalah ketika ia harus mengumpulkan serpihan keberanian yang sudah tersebar di hati kekasihnya dan atau suaminya dan atau anak-anaknya dan semua orang yang singgah di kehidupannnya, dengan susah payah dikumpulkannya dan direkatkan kembali agar menjadi satu kekuatan yang menopang kehidupannya...sehingga dalam proses pengukuhan itu sering ia dijuluki "sibawel"..."si sok tahu" ..."sikepala batu" ...."si pesolek".."si aportunis".malah "sipenghianat" dan si..si..yg lain, yang membuat orang menggeleng tak percaya. namun tidak sedikit yang sudah mencapai keutuhan jiwa seperti "si perempuan bijak"..."si cantik intelek"..."si pahlawan kemanusiaan"..."si guru pemerhati"....dan banyak lagi...
Aku begitu tersentak ketika berhadapan dengan seorang perempuan bijak yang rupawan,istri yg lembut hati dan sang guru pemerhati yang rupawan ...disiksa suaminya baik secara psikologik dan pisik ...kembali aku menggeleng kepalaku sambil mencoba menelusuri mendalam apa yang telah terjadi di wilayah terdalam dari relasi dan kehidupan mereka ....wilayah yang paling asazi seperti di tempat tidur, meja makan dan di ruang-ruang keluarga....tetap saja ku temukan bahwa di ruang-ruang itu dia adalah perempuan anggun dan sexi, cekatan dalam menyaji makanan dan lembut hati...tapi .mengapa dia disiksa???
sampai detik ini belum kutemukan jawaban kecuali hanya mencoba memandang dengan mata yang lain...melihat dari kaca mata "lelaki" ...at last baru aku sedikit memahami, bahwa perempuan ini begitu "sempurna" hampir mendekati malaikat...sementara selama ini sebagian besar "lelaki" sering menempatkan diri sebagai Tuhan-Tuhan kecil di bumi ini dalam berbagai peran baik di tempat tidur, di meja makan di ruang keluarga dan di pentas publik....lalu ketika perempuan itu menjadi sempurna ada rasa tersaingi maka kebanggaan kultural yang sudah terpatri sejak dikandungan ibu itu terusik, maka ia akan meradang dengan berbagai cara....dan yang paling ekstrim adalah ketika kekerasan pisik diekspresikan sebagai manifestasi "Power on"....jadi dalam tamparan dan pukulannya itu ia ingin mengatakan bahwa "aku adalah TuhanMu....jangan ada ilah lain dihadapanku".......

dan seperti perempuan berdaster itu.....selalu dalam keadaan darurat mereka akan melarikan diri dari himpitan kekerasan dengan bermodalkan daster di tubuh...sebuah lambang domestikasi perempuan. Bila ia berani menerobos dan keluar dari sekapan tirani domestik itu maka "daster" bagiku adalah pakaian "pembebasan" seorang perempuan.....
Akhirnya dengan semangat Kartini, aku ingin menyerukan....keluarlah wahai perempuan dari lembah-lembah kekerasan itu....satukanlah serpihan-serpihan keberanianmu dan melangkahlah dengan pasti....Tuhan akan mengawalmu hingga akhirnya....

Selamat Hari Kartini, 21 April 2009

"Massage from Meratus"

Berada bersama masyarakat penganut agama Kaharingan di pegunungan Meratus, Kec. Loksado,Kalimantan Selatan melalui 'action dialog' pemuda lintas agama, merupakan pengalaman yang luar biasa. Mengubah berbagai perspektif yang selama ini salah tentang apa itu agama dalam konteks kebhinnekaan amat penting dalam arti bahwa keberagaman iman ternyata merupakan kekuatan yang maha penting dalam mempertahankan negeri tercinta Indonesia. Sejak tanggal 4 Mei 2009 aku dan Awigra dari ANBTI bergerak dari Jakarta menuju Banjarmasin. Menghadiri kamp pemuda lintas agama yang inisiatifnya LK3 Banjarmasin, FORLOG Kalimantan Selatan,ANBTI dan Dian Interfidei. Acara ini dimulai pada tanggal 5 Mei, dengan seminar di bawah tema "Masa Depan Pluralisme Paska PEMILU 2009" dengan Narrasumber Kiyai Ilham Maskuri Hamdie dan Uskup Petrus Boddeng Timang. Setelah itu peserta yang berjumlah sekitar 30 orang terdiri dari para pemuda Islam, Protestan,Katolik dan Hindu itu berangkat menuju Loksado, Peg.Meratus. Kami berada di sana selama 4 hari untuk merasakan dan mengalami sendiri kehidupan para penganut Kaharingan di desa Malaris dan komunitas Dayak penganut Kaharingan, Kristen dan Islam di desa Muara Ulang peg. Meratus. Hal yang menarik dari perjumpaan ini adalah ketika para pemuda lintas iman ini tersadar bahwa agama dalam konstruksi Indonesia ternyata ada banyak ragamnya, bukan hanya 6 agama yang selalu diakui oleh masyarakat negara, tetapi juga ada agama rakyat seperti Kaharingan dan beratus lainnya tersebar di seluruh Nusantara. Kebersamaan ini kemudian diperteguh dengan mengunjungi dan mengalami kehidupan sehari-hari masyarakat peg.Meratus yang mayoritas penganut Kaharingan itu. Malam pertama dan kedua.kami tinggal di rumah panjang atau balai adat Kaharingan Malaris dan menikmati kesederhanaan tidur beralaskan tikar....lalu ramai-ramai mandi di sungai.....luar biasa. Setelah dua malam berada dengan masyarakat Malaris, kami kemudian bergerak bersama mereka menuju Desa Muara Ulang dengan menggunakan Lanting atau Rakit Bambu. Acara ini dikemas dengan gaya anak muda yaitu 'rafting'. Tiap rakit dihuni oleh 2-4 orang beragam agama termasuk 2 orang joki dari Malaris yang notabene adalah penganut Kaharingan. Perjalanan lintas alam ini sungguh membuka ruang kemanusiaan kami bahwa dalam ketulusan dan persahabatan ternyata Tuhan begitu dekat tanpa harus mempersoalkan agama siapa yang paling benar......Di desa Muara Ulang, masyarakat begitu antusias menyambut kami. Di balai adat mereka kami juga tidur beramai-ramai, penuh dengan makanan sehat....dan mengadakan dialog interaktif dengan mereka. Di Muara Ulang 80% penganut Kaharingan, 15% Kristen dan 5 % Islam. Mereka hidup berdampingan secara damai. Ada beberapa kata kunci yang dilontarkan oleh mereka: Kekeluargaan, Saling menerima perbedaan, dan mereka menjaga alamnya sebagai peramu dan pengelola Hutan.... Persoalan yang mengganjal adalah:

*Hak sipil administrasi kependudukan sering menghambat untuk akses pendidikan, pekerjaan dan sumber daya.

* Masalah "Hutan Lindung" di mana masyarakat yang dulunya bebas memasuki kawasan ini, kini dibatasi padahal itu adalah hutan inti dalam konstruksi kultur pengelola Hutan Masyarakat Meratus.

* Masalah Fungsi dari Persekutuan Adat yang sering disalah gunakan untuk kepentingan politik.

* Pendidikan bagi anak-anak Kaharingan yang sering tersendat karena kekurangan guru serta fasilitas yang jauh dari daerah pemukiman

Yah...ini sekedar catatan perjalananku ke Meratus....sebuah alam dan kemanusiaan yang belum tersentuh konflik dan politik penyeragaman.

Bersama Para Perempuan Perkasa di Kupang, NTT

Sabtu, 26 Juli 2008


Pertemuan Raya Jaringan Perempuan dan Politik bagi Perempuan NTT Calon legislatif 2009 di Kupang mengusung beberapa isu strategik tentang bagaimana mengisi quota 30% secara strategik dan berkualitas.Keynote Speaker adalah GKR Hemas dari DPD di dampingi Nia Syarifudin yang dalam hal ini mewakili kelompok pemantau independen keterwakilan perempuan dalam politik, juga saya yang bersama mereka memanfaatkan kehadiran di Kupang untuk konsolidasi jaringan ANBTI untuk pertemuan regional ANBTI di Kupang nanti. Pertemuan yang berlangsung dari tanggal 24-25 Juli itu cukup membuktikan bahwa perempuan NTT kuat dalam jaringan untuk peningkatan peran dalam politik,sosial dan budaya baik pada tingkat desa, kecamatan, maupun propinsi pada berbagai sektor khususnya eksekutif maupun legislatif.Secara cepat dan pasti konsolidasi kekuatan perempuan pada berbagai lini ini mulai digalang dalam memasuki pentas politik 2009 nanti. Dalam koordinasi persiapan acara terasa bahwa peranan Biro Pemberdayaan Perempuan Pemprov.NTT benar-benar berfungsi sebagai katalisator yang menggerakan jaringan dari berbagai sektor. Pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 50 orang perempuan yang mewakili berbagai sektor seperti beberapa partai, pendidikan, dan pelayanan masyarakat baik di tingkat kecamatan dan kabupaten ini menjadi berharga ketika berhasil membangkitkan motivasi positif keterlibatan perempuan dalam politik di bumi FLOBAMORA ini.

Perempuan NTT dan Partai Politik??

Berbicara tentang pentas politik 2009 maka tentunya kita perlu menoleh lebih dalam mesin-mesin politik yang berpusat pada partai partai yang tumbuh menjamur. Itu berarti perempuan mempunyai peluang untuk mengisi komposisi yang diwajibkan kepada setiap partai. Tantangan terbesar yang dihadapi oleh para perempuan NTT adalah ketika pada level propinsi dan nasional selalu bergumul mencapai quota. Sistem kampanye dan pendanaan yang belum berpihak pada perempuan membuat mereka banyak terjegal oleh strategi partai yang "male-oriented". Pernyataan yang selalu menjadi alasan adalah banyak perempuan yang bisa dicalonkan tetapi masih sedikit yang punya kompotensi. Bahkan masih cukup banyak perempuan yang masih merasa kurang percaya diri untuk terjun secara total padahal mereka mempunyai kompotensi yang unggul.
Maka, pertemuan raya ini menjadi penting untuk bersama membangun kekuatan untuk saling membagi spirit. Mereka belajar mengelola kekuatan dan mereduksi persaingan yang kontraproduktif.
Gerakan yang dimotori oleh para perempuan di sektor eksekutif dan pendidikan ini membawa pembaruan konsep tentang peran dan posisi perempuan dalam politik yang dulunya sangat ditabukan. Peluang yang ada adalah mengisi komposisi partai-partai potensial pada level kabupaten dan propinsi.

Konsentrasi pada 2 Pemilu 2009 dan 2014

Untuk memperkukuh peluang dan peran maka diperlukan fokus yang terarah agar konsentrasi sumber daya dapat diarahkan. Oleh karena itu kami mengusulkan agar jaringan ini mengarahkan diri pada 2 pemilu ke depan dengan langkah pertama pada pemilu 2009 nanti.Metode kampanye yang diusulkan adalah kampanye kualitatif dengan megnutamakan pengembangan jaringan strategis bersama kelompok perempuan pada sektor pelayanan publik, kerja sama perempuan antar partai dalam kampanye kemanusiaan dan pengembangan masyarakat serta mengangkat isu-isu ekosob yang akrab dengan kehidupan keseharian masyarakat basis.
Untuk itu data base sangat penting baik SDM, peta permasalahan masyarakat dan akses sumberdaya materil lainnya.

Pentingnya pemahaman isu Perempuan dan Politik

Memahami berbagai UU,peraturan dan kebijakan baik politik dan sosial yang ada kaitannya dengan peran dan posisi perempuan amatlah penting bagi mereka yang ingin terjun dalam arena PEMILU 2009.Sekaligus keterampilan untuk komunikasi dan informasi serta mediasi sumber daya menjadi kebutuhan mendesak. Tentunya memerlukan serangkaian pelatihan yang bisa diakomodir oleh Pemprov NTT. Nia akan kembali dengan program pelatihan intensif bagi para perempuan NTT untuk keterwakilan dalam legislatif 2009 nanti.

Di mana peranan ANBTI?

Dalam rangka konsolidasi region Papua,NTT,NTB dan Bali di Kupang maka Jaringan Perempuan dan Politik NTT yang dimotori oleh para perempuan perkasa asal suku Rote,Sabu,Flores,Alor dan Sumba serta pulau-pulau lainnya ini merupakan komponen fundamental dalam menghimpun sumber daya perekat kebinekaan Indonesia nanti. Dalam konteks ini kehadiran GKR Hemas,Nia dan saya sebagai para penggiat ANBTI melobby dan memediasi konsep dan acara yang akan diadakan sekitar Oktober atau November nanti terasa bermakna. Surat sudah kami layangkan,lobby informal bersama Gubernur dan wakil sudah mulai dikembangkan maka peranan jaringan perempuan NTT dan keikutsertaan dalam pemantapan langkah-langkah konsolidasi regional nanti merupakan langkah penting dan strategik.

Catatan Untuk Launching "We Can" Indonesia Kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, 21 Maret 2009

KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

PERSPEKTIF KRISTIANI

Catatan Pengantar Diskusi[1]

Oleh:

Pdt.Emmy Sahertian,MTh

Sek.Komisi Gereja dan Masyarakat

Synode Am Gereja Protestan di Indonesia



I. Perempuan dalam perspektif Kristiani

Acuan kristiani tentang advokasi hak perempuan adalah pada apa yang diberlakukan Yesus. Ketika melalui proses “pemuridan”, Ia menempatkan perempuan setara dengan laki-laki. Hal ini terasa ketika Ia melakukan transformasi kultural melalui proses pembelajaran pendampingan orang-orang lemah, yang berbasis pada tafsir praktis nilai-nilai keimanan. Ia mencoba mempersoalkan keadilan dibalik hukum rajam keyahudian dengan membela seorang “perempuan yang dituduh berzinah”; Ia Membongkar kemapanan berpikir tentang domestikasi perempuan dalam kisah Maria dan Marta, Ia membongkar stigma diri seorang perempuan Samaria yang sudah ditiduri oleh lebih dari satu laki-laki dengan mencoba memberi makna baru pada status sosial perempuan itu. Ia juga menempatkan perempuan paling banyak dalam konstelasi pemuridan, meskipun yang tercatat dalam penuturan Injil-Injil Sinoptik hanyalah 12 murid laki-laki, tetapi Ia memiliki lebih dari 70 murid yang kebanyakan perempuan. Apa yang dilakukan Yesus merupakan sebuah gerakan transformasi atas kemapanan peribadahan yang telah menyempitkan kemanusiaan tempat yang seharusnya orang berkenalan langsung dengan kasih dan keadilan Allah yang tidak terbatas itu.

Perjuangan ini tidak terlepas dari apa yang melatar belakangi kehidupan peribadahan saat itu yakni kuatnya pengaruh tradisi Yudaisme pada lapisan pertama yang di kemudian hari berasimilasi dengan tradisi umat berlatar belakang Yunani-Romawi pada lapisan kedua.

Pada lapisan pertama ‘perempuan’ di gambarkan sebagai sesama ciptaan Tuhan yang setara. Kata “Imago Dei” atau “Citra Tuhan” adalah manusia laki-laki dan perempuan. Namun tradisi semitis yang patriarkhat menempatkan perempuan secara subordinatif dalam penerapan peribadahan dan dalam kehidupan sehari-hari yakni degradasi keberadaan perempuan dari “mahkota ciptaan” menjadi “penolong” atau dalam metafora yang sangat diskriminatif “tulang rusuk laki-laki”. Dalam sejarah peribadahan, perempuan tidak mempunyai posisi sentral fungsi jabatan imamat, atau pemimpin ibadah, kecuali secara karismatik dalam fungsi nabi (nabiah) yang tugasnya untuk bernubuat. Posisinya baru diakui apabila kondisi darurat, ketika umat harus mengahadapi berbagai tantangan dan ancaman misalnya dalam peperangan atau darurat politik seperti pembebasan dari perbudakan di Mesir. Dalam kehidupan domestik ada beberaqpa fungsi penting misalnya sebagai “Istri”, “pembantu”,”budak”.

Pada lapisan kedua di mana konteks tradisi kitab dan surat-surat pastoral Perjanjian Baru merupakan asimilasi tradisi Yudaisme dan Yunani-Romawi, menampilkan adanya sebuah upaya transformasi posisi perempuan dengan pusat pemberitaan pada Yesus, di mana posisi perempuan dijadikan setara dalam proses ‘pemuridan Yesus. Sayangnya penulisan sejarah pelayanan yesus dibuat dalam bentuk ‘kesaksian” atau “pemberitaan” dan didandani dalaqm perpaduan tradisi tersebut yang mengambangkan posisi perempuan. Hal ini kelihatan sekali dalam etika kehidupan berkeluarga. Ungkapan “istri harus tunduk pada suami sebagai kepala keluarga, dan suami harus hormati istrinya” menunjukan ketegangan posisi tersebut. Antara kata “tunduk” bagi istri dan ‘hormat’ bagi suami dalam konteks penulisan surat pastoral abad Sesudah Masehi merupakan kemajuan besar, suatu proses untuk menurunkan posisi laki-laki yang otoriter penuh. Di masa depan ketika ayat-ayat ini harus ditafsir dalam konteks masyarakat patriakhi maka perempuanlah yang ditekan dan otoritas laki laki menjadi tidak terkendali dimulai dari lingkup peribadahan dimana otoritas patriakhis disakralkan kemudian merasuk ke dalam konteks sosio-kultural.

II. Kekerasan Terhadap Perempuan

· Kontribusi agama : Ambiguitas konsep yang berdampak pada standar ganda advokasi korban.

Yang paling mendasar dan yang menjadi pengalaman berabad-abad adalah pada penerapan tradisi keagamaan dalam peraturan peribadahan. Konsep kesetaraan jender dalam kisah penciptaan diperhadapkan secara ambigu dengan Istilah-istilah subordinatif seperti :”tulang rusuk”,”penolong”, “perempuan milik keluarga” atau pada formulir pernikahan seperti : “tunduk kepada suami”, “apa yg sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia” merupakan idiom tradisi keagamaan yang menghimpit kemanusiaan perempuan untuk menjadi dirinya sendiri. Konsep konsep ini disakralkan dan amat mempengaruhi sebagaian besar perilaku bias jender yang berdampak pada “kekerasan” yang diakui. Yang memprihatinkan adalah bahwa konsep-konsep ini tumbuh subur dalam kehidupan sosial kultural umat,

Beberapa kasus kekerasan dalam Rumah Tangga yang manifestnya pada kekerasan pisik mengacu kepada ungkapan-ungkapan di atas, yang kemudian dimanfaatkan untuk menjaga kewibawaan agama, sehingga kebisuan konspiratif ini justru menambah daftar kekerasan berbasis keimanan. Banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan menjadi tidak berdaya untuk memperjuangkan haknya. Bila terpaksa harus bercerai, maka ungkapan-ungkapan di atas membuat mereka menghentikan langkah perjuangan untuk membebaskan diri dari lingkaran kekerasan sistemik tersebut, karena perceraian dalam pemahaman merupakan ‘dosa’ atau melanggar amanat Tuhan yang telah mempersatukan mereka. Beberapa gereja protestan mulai menyadari akan fakta kekerasan dalam rumah tangga yang terangkat ke permukaan sebagai kriminal terhadap kemanusiaan sehingga perlu diadvokasi melalui jalur hukum di mana “perceraian” dimungkinkan sebagai pilihan paling bijaksana dari kondisi kekerasan yang paling buruk (Domestic Crime). Namun belum semua gereja kristen sependapat sehingga berdampak pada standar ganda advokasi korban.

· Kontribusi sosial kultural

Kondisi sosio-kultural terbangun karena dibentuk untuk menjawab interaksi kehidupan bersama dalam suatu konteks atau kawasan bermukim bersama. Di sini posisi perempuan sebagai bagian dari medium utama kehidupan berkeluarga amat penting. Pada masyarakat yang laki-laki dominan, perempuan selalu dijadikan medium reproduksi untuk memelihara klan, ia juga bisa menjadi medium produktif bila keluarga atau masyarakat dalam keadaan krisis, ia bisa dimanfaatkan menjadi medium untuk melobby dan memediasi sumber daya dan kekuatan atau kekuasaan.

· Kontribusi Negara

Tantangan terbesar adalah transformasi kebijakan negara berbasis jender masih memprihatinkan. Kebanyakan kebijaqkan itu bias jender baik dalam kebijakan berupa produk hukum maupun rancangan pembangunan. Lahirnya UU PKDRT,Perlindungan Anak,Anti Trafficking mestinya bisa dijadikan kesempatan untuk merekonstruksikan masyarakat yang bias jender menjadi sebuah kesadaran bersama yang selanjutnya menciptakan kultur keadilan jender dalam masyarakat. Namun pertanyaan besar dengan diloloskannya UU no.44/2008 tentang pornografi menambah panjang langkah perjuangan perempuan di Indonesia.

III. Beberapa program yang sedang berlangsung

Gerakan transformasi simultan tiga aras penting, yakni agama,sosio-kultural dan kebijakan negara sedang berproses, perlu didorong lebih gencar.

Dalam Gereja, kami memulai dari rekonstruksi teologis yang dituangkan secara struktural pada program di aras nasional, wilayah maupun pada level lokal. Pada level-level ini ada “desk” yang melihat dan merancang program secara kategorial perempuan, laki-laki, anak, remaja dan pemuda, juga ada lansia. Memang prosentasi kegiatan terbesar baru pada tataran ritual. Namun sudah mulai ada upaya progresif dari kelompok teologi feminis yang mensosialisasikan program “membaca Kitab Suci melalui mata baru (perempuan)” yang cukup berhasil dan menjaring aktivis dari berbagai kalangan termasuk kaum laki-laki. Di harapkan gerakan ini akan ikut merekonstruksi sosio-kultural masyarakat yang tidak lain adalah umat itu sendiri. Pada tataran praktis beberapa pusat pendampingan perempuan yang dilakukan baik dalam bentuk gerakan LSM maupun dalam program gereja sudah ada meskipun terbentur pada belum meratanya pemahaman teologik tentang jender dan keadilan jender. Dalam tataran ini upaya pengembangan jaringan lintas sektor, lintas agama untuk advokasi gencar dilakukan.

Semoga upaya ini terus berjalan……….



[1] Disampaikan dalam Lunching Nasional We Can End All Violence Against Women: “Hidup Terhormat tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan”,21 Maret 2009